WASHINGTON--Penyelesaian damai telah dicapai dalam sebuah tuntutan hukum federal yang diajukan oleh enam imam terhadap US Airways dan beberapa pihak lain pada tahun 2007. US Airways bersedia membayar ganti rugi kepada enam imam yang diturunkannya dari sebuah penerbangan pada tahun 2006 karena diduga melakukan aktivitas mencurigakan.
Keenam imam Amerika tersebut menuntut US Airways atas pelanggaran hak asasi. Mereka mengajukan tuntutan ke pengadilan distrik AS di Minneapolis, karena ditahan dengan tidak sah setelah mereka dipindah secara paksa dari sebuah penerbangan antara Minneapolis dan Phoenix tahun 2006. Mereka berada di Minneapolis untuk menghadiri sebuah pertemuan para pemimpin Islam.
Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations - CAIR) memuji penyelesaian itu sebagai "kemenangan bagi keadilan" dalam kasus yang terkenal dengan sebutan "flying while a Muslim". Detail penyelesaian tidak dirilis namun CAIR mengatakan bahwa kasus itu ditutup secara memuaskan bagi semua pihak. "Sebuah penyelesaian tentatif telah dicapai," ungkap Ibrahim Hooper, juru bicara CAIR, kepada IslamOnline.net, Rabu (21/10).
Tiga dari para pemimpin agama itu melakukan shalat di bandara sebelum masuk ke pesawat. Beberapa staf dan penumpang tampaknya curiga dengan aktivitas itu. Keenam orang itu dipindahkan dari penerbangan Minneapolis ke Phoenix pada tanggal 20 November dan diinterogasi selama lima jam. Setelah proses interogasi, US Airways menolak untuk mengizinkan mereka naik pesawat lain untuk pulang ke rumah. Para imam, akhirnya menggunakan pesawat Northern Airlines untuk pulang ke rumah mereka di Phoenix dan Bakersfield, California. iol/smd/taq
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Jumat, 26 Februari 2010
Minggu, 21 Februari 2010
Kontroversi Injil Yunani Kuno Terpecahkan Di Rusia
KursiTerbalik.com - MOSKOW – Sebuah dokumen yang mengkonfirmasikan bahwa Codex Sinaiticus, sebuah naskah Injil Yunani kuno tulisan tangan, merupakan milik perpustakaan Inggris, ditemukan dalam arsip Kementerian Luar Negeri Rusia.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada tahun 1989 oleh uskup besar Biara Saint Catherine, di kaki gunung Sinai, dengan perwakilan dari kekaisaran Rusia (Uni Soviet).
Dalam dokumen tersebut, uskup besar Sinai, Kallistrat, yang bertindak atas nama biara, mengkonfirmasikan bahwa naskah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dari perpustakaan biara telah diserahkan secara resmi kepada kekaisaran Rusia. Pihak biara menerima bayaran 9.000 rubel atas penjualan naskah tersebut.
Pada tahun 1933, Stalin menjual Injil yang ditulis pada abad ke-4 Masehi dalam huruf uncial (huruf cetak besar yang khusus dipergunakan dalam penulisan naskah-naskah Yunani dan Latin) tersebut kepada perpustakaan Museum Inggris dengan harga £100.000. Satu bulan berselang setelah berpindah tangan ke London, Biara Saint Catherine kemudian mengklaim sebagai satu-satunya pemilik sah naskah tersebut. Menurut klaim pihak biara, naskah tersebut diambil alih dari perpustakaan mereka melalui penipuan.
Hingga baru-baru ini, para biarawan berhenti mengklaim sebagai pemilik naskah kuno tersebut. Namun pihak biara masih terus “berduka atas kehilangan” naskah kitab tersebut.
Kini, ketika proses alih tangan Codex Sinaiticus dari biara kepada kekaisaran Rusia telah dapat dibuktikan keabsahannya, maka tidak diragukan lagi bahwa Perpustakaan Inggris menjadi pemilik dari Alkitab kuno tersebut.
Dokumen tersebut mengkonfirmasikan bahwa bukti pembelian Codex Sinaiticus oleh kekaisaran Rusia telah ditemukan kembali oleh seorang karyawan Perpustakaan Nasional Rusia kala tengah menelusuri cerita mengenai naskah tersebut dan mengakses arsip Kementerian Luar Negeri Rusia.
Pada bulan Mei 1975, dalam sebuah upaya restorasi. Para biarawan Saint Catherine di Sinai menemukan sebuah ruangan di bawah kapel Saint George yang berisikan banyak pecahan perkamen. Diantara perkamen-perkamen tersebut, tiga halaman yang hilang dari Sinaiticus ditemukan.
Teks Sinaiticus (yang ditulis di empat kolom halaman tersebut) berisi sejumlah bacaan yang mengandung kesalahan penyalinan teks, kemungkinan disebabkan oleh kecerobohan dalam melakukan penghapusan. Dan dari sana, teks tersebut menjadi mirip dengan Codex Vaticanus. Penemuan Sinaiticus mengindikasikan bahwa sumber dari kedua Codex tersebut sama.
Dalam Codex Sinaiticus terdapat Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Perjanjian Baru terdiri dari empat buku, kisah, dan surat Katolik dan Pauline (termasuk dalam bahasa Ibrani), wahyu, Surat Barnabas, dan Gembala Hermas.
Total terdapat 346,5 halaman, dimana 199 diantaranya berasal dari Kitab Perjanjian Lama (termasuk kitab-kitab Apokrifa) dan 147,5 halaman merupakan bagian dari Kitab Perjanjian Baru (termasuk Surat Barnabas dan Gembala Hermas). Kata-kata yang ada ditulis secara berkelanjutan tanpa terpisah. Tidak ada jeda dan penekanan.
Namun, ada banyak bagian Kitab Perjanjian Baru yang hilang dalam codex tersebut. Codex tersebut kemungkinan dibuat oleh tiga orang penulis, yang umumnya disebut A, B, dan D. A menulis keseluruhan Kitab Perjanjian Baru, kecuali enam halaman, dan sebagian kecil dari satu halaman, yang tampaknya disalin oleh D. Tampaknya ada sembilan orang korektor, mulai dari abad keempat hingga abad ke-12, yang telah mengoreksi naskah tersebut.
Injil Matius 16:2 dihilangkan. Injil Markus hanya berakhir pada 16:8 (Markus 16:9-20 menyebutkan kebangkitan kenaikan Yesus), Lukas 22:43 disebut sebagai ayat palsu oleh korektor pertama. Namun hal itu dihapuskan oleh korektor ketiga. Yohanes 5:4 dan Pericope de adultera dihapuskan. Doksologi Roma disebutkan setelah 16:23, ayat 24 dihapuskan. (dn/rt/ui)
(suaramedianews)
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada tahun 1989 oleh uskup besar Biara Saint Catherine, di kaki gunung Sinai, dengan perwakilan dari kekaisaran Rusia (Uni Soviet).
Dalam dokumen tersebut, uskup besar Sinai, Kallistrat, yang bertindak atas nama biara, mengkonfirmasikan bahwa naskah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dari perpustakaan biara telah diserahkan secara resmi kepada kekaisaran Rusia. Pihak biara menerima bayaran 9.000 rubel atas penjualan naskah tersebut.
Pada tahun 1933, Stalin menjual Injil yang ditulis pada abad ke-4 Masehi dalam huruf uncial (huruf cetak besar yang khusus dipergunakan dalam penulisan naskah-naskah Yunani dan Latin) tersebut kepada perpustakaan Museum Inggris dengan harga £100.000. Satu bulan berselang setelah berpindah tangan ke London, Biara Saint Catherine kemudian mengklaim sebagai satu-satunya pemilik sah naskah tersebut. Menurut klaim pihak biara, naskah tersebut diambil alih dari perpustakaan mereka melalui penipuan.
Hingga baru-baru ini, para biarawan berhenti mengklaim sebagai pemilik naskah kuno tersebut. Namun pihak biara masih terus “berduka atas kehilangan” naskah kitab tersebut.
Kini, ketika proses alih tangan Codex Sinaiticus dari biara kepada kekaisaran Rusia telah dapat dibuktikan keabsahannya, maka tidak diragukan lagi bahwa Perpustakaan Inggris menjadi pemilik dari Alkitab kuno tersebut.
Dokumen tersebut mengkonfirmasikan bahwa bukti pembelian Codex Sinaiticus oleh kekaisaran Rusia telah ditemukan kembali oleh seorang karyawan Perpustakaan Nasional Rusia kala tengah menelusuri cerita mengenai naskah tersebut dan mengakses arsip Kementerian Luar Negeri Rusia.
Pada bulan Mei 1975, dalam sebuah upaya restorasi. Para biarawan Saint Catherine di Sinai menemukan sebuah ruangan di bawah kapel Saint George yang berisikan banyak pecahan perkamen. Diantara perkamen-perkamen tersebut, tiga halaman yang hilang dari Sinaiticus ditemukan.
Teks Sinaiticus (yang ditulis di empat kolom halaman tersebut) berisi sejumlah bacaan yang mengandung kesalahan penyalinan teks, kemungkinan disebabkan oleh kecerobohan dalam melakukan penghapusan. Dan dari sana, teks tersebut menjadi mirip dengan Codex Vaticanus. Penemuan Sinaiticus mengindikasikan bahwa sumber dari kedua Codex tersebut sama.
Dalam Codex Sinaiticus terdapat Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Perjanjian Baru terdiri dari empat buku, kisah, dan surat Katolik dan Pauline (termasuk dalam bahasa Ibrani), wahyu, Surat Barnabas, dan Gembala Hermas.
Total terdapat 346,5 halaman, dimana 199 diantaranya berasal dari Kitab Perjanjian Lama (termasuk kitab-kitab Apokrifa) dan 147,5 halaman merupakan bagian dari Kitab Perjanjian Baru (termasuk Surat Barnabas dan Gembala Hermas). Kata-kata yang ada ditulis secara berkelanjutan tanpa terpisah. Tidak ada jeda dan penekanan.
Namun, ada banyak bagian Kitab Perjanjian Baru yang hilang dalam codex tersebut. Codex tersebut kemungkinan dibuat oleh tiga orang penulis, yang umumnya disebut A, B, dan D. A menulis keseluruhan Kitab Perjanjian Baru, kecuali enam halaman, dan sebagian kecil dari satu halaman, yang tampaknya disalin oleh D. Tampaknya ada sembilan orang korektor, mulai dari abad keempat hingga abad ke-12, yang telah mengoreksi naskah tersebut.
Injil Matius 16:2 dihilangkan. Injil Markus hanya berakhir pada 16:8 (Markus 16:9-20 menyebutkan kebangkitan kenaikan Yesus), Lukas 22:43 disebut sebagai ayat palsu oleh korektor pertama. Namun hal itu dihapuskan oleh korektor ketiga. Yohanes 5:4 dan Pericope de adultera dihapuskan. Doksologi Roma disebutkan setelah 16:23, ayat 24 dihapuskan. (dn/rt/ui)
(suaramedianews)
Labels:
Berita Dunia,
islam,
kitab suci,
kristen,
nasrani,
penghinaan agama,
religius
MUI bakal mengharamkan mengendarai sepeda motor tanpa helm
KursiTerbalik.com - Salah satu cara menekan angka kecelakaan lalu lintas, Road Safety Associtation (RSA) meminta dukungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk melahirkan fatwa bahwa mengendarai sepeda motor tanpa helm haram hukumnya.
"RSA meminta bantuan MUI agar turut mengajak para ulama menyebarluaskan keselamatan berkendara, termasuk bersepeda motor yang aman," ujar Rio Octaviano, ketua umum RSA, usai bertemu Sekretaris Jenderal MUI Ichwan Syam, di Jakarta, Jumat (19/2).
Menurut Rio, MUI diharapkan bisa mengeluarkan fatwa. "Posisi ulama sangat strategis selaku pemimpin informal di tengah masyarakat kita. Sebagai negara yang penduduknya muslim terbesar di dunia, ulama menjadi panutan umat. Sinergi RSA dan MUI diharapkan memperluas dan mempercepat guliran pesan keselamatan jalan di tengah masyarakat," ujarnya.
Ulama memegang peran penting untuk mengajak umat berkendara yang santun dan bersahabat di jalan. "Maklum, kecelakaan sudah sangat memprihatinkan. Sepanjang 17 tahun terakhir lebih dari 185 ribu jiwa melayang akibat kecelakaan di jalan," papar Edo Rusyanto, Kepala Litbang RSA.
Ia menambahkan, korban luka berat dan ringan lebih dari 250 ribu orang. "Rata-rata, selama 17 tahun terakhir, setiap hari ada 32 orang yang tewas sia-sia di jalan," ujar Edo. Ironisnya,mayoritas korban kecelakaan adalah para pengendara sepeda motor.
Bagi Ichwan Syam, pihaknya amat mendukung usulan RSA tentang keselamatan jalan. "Kita wellcome, silakan dikoordinasikan dengan para ulama dan kyai. Kami akan fasilitasi bisa dalam bentuk diskusi atau semiloka yang selanjutnya para ulama memasukannya dalam khotbah mereka," ujar Ichwan.
Tentang fatwa haram tidak memakai helm saat bersepeda motor, Ichwan menyarankankan RSA agar membuat surat permintaan dengan menyandingkan alasan atau kajian dan data soal meruyaknya risiko berkendara tanpa helm. "Fatwa lahir dari kajian multi disiplin ilmu, MUI tak ingin fatwa menimbulkan kontro versi," ujarnya.
Edo menambahkan, selama ini, dari kajian yang ada bahwa pengendara sepeda motor yang korban tewas akibat kecelakaan jalan hampir 90%-nya akibat luka di kepala. "Itu menunjukkan mutlak memakai perlindungan helm yang berkualitas bagus," tegasnya. [Tom]
Labels:
Berita Nasional / Lokal,
helm,
islam,
kecelakaan,
MUI,
polisi
Sabtu, 20 Februari 2010
Cara Mencari Arah Kiblat
KursiTerbalik.com - Arah kiblat menjadi prasyarat menjalankan ibadah shalat. Di mana pun umat Islam menjalankan ritual keagamaan itu, mereka harus berkiblat ke Kabah di Mekkah. Penentuan arah kiblat tentu tak masalah bagi mereka yang berada di dekat Kabah. Bagaimana memastikannya jika berada jauh dari tempat suci itu?
Beberapa waktu lalu di internet muncul tulisan Usep Fathudin, mantan Staf Khusus Menteri Agama, yang mengungkap beragam arah kiblat masjid-masjid di Jakarta. Kesahihan kiblat suatu masjid, menurutnya, perlu dicapai sebelum masjid dibangun. Hal itu karena pergeseran 1 sentimeter saja bisa berarti 100 kilometer penyimpangan jaraknya.
Meskipun begitu, menurutnya, akurasi arah kiblat 100 persen memang tidak diwajibkan dalam shalat, seperti tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 144, yang memerintahkan untuk shalat ke arah kiblat. ”Kata-kata ’ke arah’ ditafsirkan sebagai usaha maksimal mengarahkan shalat kita ke Kabah di Mekkah,” urainya.
Walaupun begitu, upaya untuk mendekati ketepatan arah ke kiblat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Usep menyebutkan, penentuan arah kiblat Masjid Al Mukhlishun di Griya Depok Asri, Depok Tengah, yang berdiri tahun 2001, menggunakan suatu kompas kecil berbahasa Inggris, dengan tulisan Latin dan Arab.
Pada alat penunjuk arah itu tertulis bahwa untuk Jakarta dan sebagian besar kota di Indonesia, arah utara jarum kompas harus menunjuk angka 9 sebagai arah kiblat.
Kenyataannya, survei arah kiblat yang dilakukannya di berbagai masjid besar di Jakarta memperlihatkan, kompas yang digunakannya menunjuk arah yang berbeda-beda di tiap tempat ibadah itu, berkisar dari 7,5 hingga 9.
Penentuan arah kiblat yang dipakai umumnya mengacu pada arah utara geografis sebenarnya, yang memakai arah kompas atau jarum magnetik yang disebut ”pencari arah Kabah”. Arah jarum magnetik di kompas mengarah berdasarkan kutub magnetik Bumi di kutub utara.
Ternyata arah utara magnetik Bumi itu berbeda di tiap kota dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh rotasi Bumi. Penelitian menunjukkan arah utara magnetik terus bergeser sekitar 4,8 kilometer per tahun. Pada tahun 2005 pergeserannya mencapai 800 kilometer dari kutub utara sebenarnya. Pada 2050 diperkirakan utara magnetik Bumi mendekati Siberia.
Qibla Locator
Penggunaan kompas sebagai penunjuk arah kiblat belakangan memang dianggap kurang akurat. Belakangan diperkenalkan peranti lunak Qibla Locator yang termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com.
Qibla Locator atau penunjuk arah kiblat antara lain dirancang oleh Ibn Mas’ud dengan menggunakan peranti lunak aplikasi Google Maps API v2, sejak tahun 2006. Pengembangan tampilan dan aplikasinya kemudian melibatkan Hamed Zarrabi Zadeh dari Universitas Waterloo di Ontario, Kanada.
Pada Qibla Locator versi Beta seri 0.8.7 itu dilengkapi dengan geocoding dari Yahoo, pengontrol arah pada citra peta, dan indikator tingkat pembesaran. Hingga September 2007 dihasilkan empat versi Beta dengan beberapa aplikasi tambahan, Geocoder, dan tampilan jarak.
Dengan Qibla Locator yang berbasis Google Earth ini dapat diketahui arah kiblat dari mana pun kita berada. Untuk mengetahuinya, di bagian atas situs itu ada kotak untuk memasukkan lokasi, alamat atau nama jalan, kode pos, dan negara atau garis lintang dan garis bujur.
Maka di sisi kanan gambar peta akan muncul besaran arah kiblat atau kabah dan jaraknya dari posisi lokasi yang kita masukkan. Peranti lunak ini, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sangat membantu guna mengecek arah kiblat secara akurat. ”Ini bisa untuk koreksi massal masjid-masjid di Indonesia,” katanya.
Bayangan matahari
Thomas, pakar astronomi dan astrofisika, mengemukakan bahwa ada penentuan arah kiblat yang menggunakan bayangan Matahari. Sekitar tanggal 26-30 Mei pukul 16.18 WIB dan 13-17 Juli pukul 16.27 WIB Matahari tepat berada di atas kota Mekkah.
Pada saat itu Matahari yang tampak dari semua penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Kabah. Begitu pula bayangan benda tegak pada waktu itu juga dapat menjadi menentu arah ke kiblat.
Selain itu untuk daerah yang tidak mengalami siang, sama dengan Mekkah, waktu yang digunakan adalah saat Matahari di atas titik yang diametral dengan Mekkah. Waktu yang dapat dijadikan patokan penunjuk kiblat untuk wilayah tersebut adalah Matahari pada tanggal 12 hingga 16 Januari pukul 04.30 WIB dan 27 November hingga 1 Desember pukul 04.09 WIB.
Cara ini menurutnya paling mudah untuk mengoreksi arah kiblat, termasuk untuk garis saf di dalam masjid. Begitu mudah sehingga orang awam pun dapat melakukannya.
Labels:
Berita Dunia,
Berita Nasional / Lokal,
islam,
kiblat,
mesjid,
Tips,
umat muslin
Langganan:
Postingan (Atom)